About Me

Foto saya
Ada dua cermin yang satu cembung dan yang satu cekung ketika kita berdiri didepannya maka apa yang terjadi satu terlihat lebih besar dan satu terlihat lebih kecil dan kita tidak akan pernah tau siapa diri kita. So,kita tidak perlu menjadi besar ataupun kecil untuk melihat siapa diri kita sesungguhnya, kita hanya membutuhkan cermin datar yang sederhana. By : Deslina Wandry November, 2010

Minggu, 23 Juni 2013

Diskusi


Saat berdiskusi soal cita-cita dengan teman, sering kali teman hanya fokus pada prospek dunianya. Apakah lapangan kerjanya luas atau kemungkinan "penghasilannya" besar.  

Saat mereka mendapati jawabanku, mereka tercengang heran kenapa aku malah ingin meninggalkan karir dengan kesempatan kerja yang baik akan datang untukku setelah menempah pendidikan dan melanglang buana di negara orang.  

Aku tak ingin terlalu banyak berdebat dengan pendapat orang lain, karena pendapat kali ini masalah selera dan selera sama sekali tidak bisa diperdebatkan, misalnya si A pecinta pedas dan kenapa kita harus mengomentari dan memaksa si A untuk tidak memilih pedas, dan seterusnya.  

Aku hanya bisa bilang ke mereka, bahwa aku sudah menambahkan suatu pertanyaan yang datang dari ibuku semasa aku kecil terdahulu dan apakah kalian juga sudah menambahkan pertanyaan ini : 

*Apapun cita-citamu, apakah itu kelak akan memudahkan jalanmu ke surga? Jika iya, bagaimana? 

Berangkat dari cita-cita tentu juga akan ada kolerasi terhadap pemilihan pasangan hidup kelak, jika sekarang hanya terfokus pada prospek dunia, tentu ia akan memilih pasangan hidup yang apakah akan hidup bahagia serta kaya raya dengan seseorang yang akan dia nikahi kelak.  

Apapun di dunia ini telah Allah ciptakan berpasang-pasangan, siang dengan malam, wanita dan pria, begitu pula bahagia dan sedih. Live is never Flat, hidup tidak akan pernah sedatar yang kita kira akan ada masa dimana cobaan itu datang benar-benar ingin merontokan pondasi ketangguhan kita, bisa saja ketika sudah menikah salah satu dari pasangan diberikan Allah berupa "fitnah" yang datang ntah dari mana.  

Hal yang timbul dibenakku apa iya ketika fitnah datang dan kita sama sekali tidak berdaya dikarenakan keraguan yang datang akibat kita sama sekali tidak tahu kenebenarannya padahal pasangan kita sama sekali tidak bersalah. Apa yang akan dan bisa kita percaya?????? Hartanya??? Karirnya??? Ketampanannya??? #buta kalian jika bisa percaya pada harta, karir dan ketampanannya. 

Jika begini semua kilauan yang ditawarkan dunia tidak mampu membawa kita pada keinginan kita di awal yaitu hidup bahagia dan kaya raya dengan pasangan hidup, terjebak dalam tipu daya Iblis. Iblis memang senang menawarkan hal-hal yang menyenangkan di awal dan pada akhirnya menyesatkan dan menjerumuskan.  

Ini yang membuat aku membuat pertanyaan tambahan untuk masa depan setelah pertanyaan tambahan tentang cita-cita ditambahkan oleh ibuku terdahulu : 

*Siapapun calon suamiku kelak, apakah ia akan membantu dan memudahkan jalanku ke surga? jika iya, siapa?  

ketika ada pertanyaan siapa, jawabannya hanya satu karena laki-laki yang akan dipilih kelak juga cuma satu yaitu laki-laki yang ketika fitnah itu datang aku sebagai seorang istri kelak yakin seyakin-yakinnya kepada dia karena Allah, percaya dan benar-benar memperjuangkan dia sampai titik darah penghabisan walau aku tidak tahu kebenarannya namun karena "AKHLAKnya yang mulia" ini yang membantu aku tahu kejadian sesungguhnya tanpa aku butuh hakim, penasihat dan sebagainya, karena orang yang berakhlak mulia takut atas larangan Allah SWT orang yang berakhlak mulia berakal, sayang pada Allah dan tidak ingin Allah menjauhi dia.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar