About Me

Foto saya
Ada dua cermin yang satu cembung dan yang satu cekung ketika kita berdiri didepannya maka apa yang terjadi satu terlihat lebih besar dan satu terlihat lebih kecil dan kita tidak akan pernah tau siapa diri kita. So,kita tidak perlu menjadi besar ataupun kecil untuk melihat siapa diri kita sesungguhnya, kita hanya membutuhkan cermin datar yang sederhana. By : Deslina Wandry November, 2010

Minggu, 13 Januari 2013

Renungan refleksi hidup kedepan


Hampir satu bulan penuh aku menghilang tanpa kabar, menghilang karena aku telah berada di titik penghujung mimpiku, aku menari di dalam mimpi2ku yang telah aku wujudkan dengan peluh, keringat, air mata, dan do’a kedua orang tua yang tak pernah berhenti seraya tasbih yang mereka lafalkan hingga akhirnya hati Allah tergugah untuk tersenyum kepada semua mimpi2ku.

Namun detik, menit, hari juga mempunyai mimpi yang sama, mereka ingin mewujudkan mimpi mereka untuk berkerja dengan baik dan  terus berputar hingga masa itu tiba, dimana masa yang telah di janjikan akan datang. Mereka percaya suatu saat Jibril pasti memenuhi janjinya untuk menghapus peluh mereka yang tak pernah berhenti berkerja siang dan malam dengan hebusan yang datangnya dari terompet yang dihadiahkan Allah untuk Jibril. Dan pada masa itu mereka akan beristirahat serta berhenti berputar.

Kini sering kali aku bertanya pada diri sendiri.
Untuk apa semua ini?

Jika jawabannya adalah untuk derajat kedua orang tua, apakah Allah juga akan memandang sama jika tak ada satu ayat Allah yang mampu aku hafal agar bisa aku persembahkan untuk kedua orang tuaku kelak sebagai jubah kemulia bagi mereka berdua.

Untuk apa semua ini?

Jika jawabannya adalah aku akan menemukan pendamping hidup yang soleh, apakah Allah akan redho jika seorang istri kelak berada 24 jam di luar untuk berkerja mendapatkan gaji yang lebih dari mencukupi.

Maka murka Allah pasti akan datang untukku.

“Tidakkah Aku akan memberikan kecukupan kepada hamba-hambaku yag selalu bersyukur, sayang kepada keluarga, mencintai anak yatim, bersedekah dan istri yang baik untuk suami yang soleh”. 

Sebelum semua terlambat, dan waktu juga masih sedang dalam proses untuk menjumpai mimpinya bertemu malaikat Allah. Masih ada harapan untuk hari esok.

Sekarang aku mulai menyusun kembali catatan mimpiku yang dulu sudah tersusun dengan rapih.
Aku akan memenuhi kewajibaku untuk menyelesaikan studi, berkerja dengan penuh keihklasan, melebihkan timbangan pada pekerjaanku yang berarti datang lebih awal dan pulang sejam lebih dari waktu yang di tentukan karena Allah tidak menyukai hambanya yang mengurangi timbangan.

Setelah kemudian aku menemukan pendamping hidup yang soleh, aku akan membalikkan semuanya jika semula 24 jam aku untuk mimpiku, namun setelah itu 24 jam aku untuk keluarga, suami, anak dan anak-anakku di panti.

Bagaimana bisa yang semula aku sudah terbiasa berkerja 24 jam dan kelak harus meninggalkan semua itu?
Jika masa itu sudah tiba maka “TIDAK” ada kata penyesalan jawabku.

Karena aku masih bisa berkerja 24 jam untuk bisa menjadi istri yang baik untuk suamiku, jadi ibu yang baik untuk anak-anakku, dan jadi bunda yang baik untuk anak-anak pantiku.

Beberapa orang teman disini banyak menentang keinginanku untuk berhenti berkarir jika aku telah menemukan pasangan hidup yang soleh, sabar, tidak berkata kasar, dan membimbingku dengan baik, berlaku adil pada kedua orang tuaku dan kedua orangtuanya.

Mereka berkata jika aku tidak perlu repot-repot di jaman serba praktis ini, dengan gaji yang aku terima mampu membayar tenaga tambahan untuk melakukan pekerjaan rumah.

Ketika dia dengan berani mengatakan punya sudut pandangan yang berbeda terhadap hidup yang sudah serba canggih namun bakti, amal, dan rasa hormat tidak pernah mengenal kata canggih. Siapa yang melakukan maka dia yang akan mendapatkan manfaatnya. Tidak bisa dibeli dan digantikan.

Aku ingin tangan ini sendiri yang mencuci pakaian suamiku kelak, karena ada amal disitu jika seorang istri mencuci pakaian suami dengan ikhlas, mengasuh dan memperhatikan anak-anak dengan tulus, membuatkan teh atau kopi, menyambut dan mengantar suami dan anak dengan senyuman, pelukan cinta karena Allah, sembari menunggu mereka pulang aku juga punya waktu untuk menghafal ayat-ayat Allah agar kelak ayah dan ibu tidak perlu khawatir untuk melewati jembatan Shiratal Mustaqim milik Allah.

Jika sekalipun Allah telah menyediakan Kendaraan lebih hebat dari Buraq sekalipun untuk menjemput Ayah dan Ibuku, aku akan tetap dengan sabar menggendong kedua orang tuaku dan mengantarkan mereka hingga kedalam syurgaNya Allah.

Kesibukanku yang padat hingga menyita waktuku untuk bersilahturahmi dengan hamba2 Allah yang lainnya membuat aku banyak bersyukur dan berfikir.

Sehari penuh aku hanya belajar, berkerja, dan sujud kemudian beristirahat.
Bersyukur karena Allah telah melindungi aku dari banyak kedzoliman-kedzoliman yang terjadi diluar sana.
Ini juga membuat aku berfikir alangkah indahnya jika aku kelak menjadi istri yang baik dan seharian melakukan aktifitas bersama keluarga, ini mampu menjaga diri dari penyakit hati yang banyak di luar sana.  
Jika kita terus berada dalam keadaan suci dan terus menjaga diri kita suci dengan wudhu, suci dari perkataan buruk, suci dan pandangan yang tidak halal, dan suci dari perasaan yang su’uzan maka dengan segera apa yang kita inginkan Allah akan dengan cepat mengabulkan. Dan dengan cepat ayat-ayat Allah bisa aku hafal dengan baik.

Kejar dunia untuk akhirat mungkin inlah langkah yang baik yang akan lakukan di tahun mendatang. Hidup terus berputar dan tak pernah ada kata kesudahan jika terus mengejar kilauan yang ditawarkan oleh dunia.
Izinkan hamba kembali padaMu ya Allah ya Tuhan pencipta semesta alam. Hidup sudah tidak akan lama lagi akan berakhir. Kilauan dunia hanya akan menambah duri untuk aku bisa melangkah ke dalam syurgaMu.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar