Hampir satu bulan penuh aku menghilang tanpa kabar,
menghilang karena aku telah berada di titik penghujung mimpiku, aku menari di
dalam mimpi2ku yang telah aku wujudkan dengan peluh, keringat, air mata, dan do’a
kedua orang tua yang tak pernah berhenti seraya tasbih yang mereka lafalkan
hingga akhirnya hati Allah tergugah untuk tersenyum kepada semua mimpi2ku.
Namun detik, menit, hari juga mempunyai mimpi yang sama,
mereka ingin mewujudkan mimpi mereka untuk berkerja dengan baik dan terus berputar hingga masa itu tiba, dimana
masa yang telah di janjikan akan datang. Mereka percaya suatu saat Jibril pasti
memenuhi janjinya untuk menghapus peluh mereka yang tak pernah berhenti
berkerja siang dan malam dengan hebusan yang datangnya dari terompet yang
dihadiahkan Allah untuk Jibril. Dan pada masa itu mereka akan beristirahat
serta berhenti berputar.
Kini sering kali aku bertanya pada diri sendiri.
Untuk apa semua ini?
Jika jawabannya adalah untuk derajat kedua orang tua, apakah
Allah juga akan memandang sama jika tak ada satu ayat Allah yang mampu aku
hafal agar bisa aku persembahkan untuk kedua orang tuaku kelak sebagai jubah
kemulia bagi mereka berdua.
Untuk apa semua ini?
Jika jawabannya adalah aku akan menemukan pendamping hidup
yang soleh, apakah Allah akan redho jika seorang istri kelak berada 24 jam di
luar untuk berkerja mendapatkan gaji yang lebih dari mencukupi.
Maka murka Allah pasti akan datang untukku.
“Tidakkah Aku akan memberikan kecukupan kepada hamba-hambaku
yag selalu bersyukur, sayang kepada keluarga, mencintai anak yatim, bersedekah
dan istri yang baik untuk suami yang soleh”.
Sebelum semua terlambat, dan waktu juga masih sedang dalam
proses untuk menjumpai mimpinya bertemu malaikat Allah. Masih ada harapan untuk
hari esok.
Sekarang aku mulai menyusun kembali catatan mimpiku yang
dulu sudah tersusun dengan rapih.
Aku akan memenuhi kewajibaku untuk menyelesaikan studi, berkerja
dengan penuh keihklasan, melebihkan timbangan pada pekerjaanku yang berarti
datang lebih awal dan pulang sejam lebih dari waktu yang di tentukan karena
Allah tidak menyukai hambanya yang mengurangi timbangan.
Setelah kemudian aku menemukan pendamping hidup yang soleh,
aku akan membalikkan semuanya jika semula 24 jam aku untuk mimpiku, namun
setelah itu 24 jam aku untuk keluarga, suami, anak dan anak-anakku di panti.
Bagaimana bisa yang semula aku sudah terbiasa berkerja 24
jam dan kelak harus meninggalkan semua itu?
Jika masa itu sudah tiba maka “TIDAK” ada kata penyesalan
jawabku.
Karena aku masih bisa berkerja 24 jam untuk bisa menjadi
istri yang baik untuk suamiku, jadi ibu yang baik untuk anak-anakku, dan jadi
bunda yang baik untuk anak-anak pantiku.
Beberapa orang teman disini banyak menentang keinginanku
untuk berhenti berkarir jika aku telah menemukan pasangan hidup yang soleh,
sabar, tidak berkata kasar, dan membimbingku dengan baik, berlaku adil pada
kedua orang tuaku dan kedua orangtuanya.
Mereka berkata jika aku tidak perlu repot-repot di jaman serba
praktis ini, dengan gaji yang aku terima mampu membayar tenaga tambahan untuk
melakukan pekerjaan rumah.
Ketika dia dengan berani mengatakan punya sudut pandangan
yang berbeda terhadap hidup yang sudah serba canggih namun bakti, amal, dan
rasa hormat tidak pernah mengenal kata canggih. Siapa yang melakukan maka dia
yang akan mendapatkan manfaatnya. Tidak bisa dibeli dan digantikan.
Aku ingin tangan ini sendiri yang mencuci pakaian suamiku
kelak, karena ada amal disitu jika seorang istri mencuci pakaian suami dengan
ikhlas, mengasuh dan memperhatikan anak-anak dengan tulus, membuatkan teh atau
kopi, menyambut dan mengantar suami dan anak dengan senyuman, pelukan cinta
karena Allah, sembari menunggu mereka pulang aku juga punya waktu untuk
menghafal ayat-ayat Allah agar kelak ayah dan ibu tidak perlu khawatir untuk
melewati jembatan Shiratal Mustaqim milik Allah.
Jika sekalipun Allah telah menyediakan Kendaraan lebih hebat
dari Buraq sekalipun untuk menjemput Ayah dan Ibuku, aku akan tetap dengan
sabar menggendong kedua orang tuaku dan mengantarkan mereka hingga kedalam
syurgaNya Allah.
Kesibukanku yang padat hingga menyita waktuku untuk
bersilahturahmi dengan hamba2 Allah yang lainnya membuat aku banyak bersyukur
dan berfikir.
Sehari penuh aku hanya belajar, berkerja, dan sujud kemudian
beristirahat.
Bersyukur karena Allah telah melindungi aku dari banyak
kedzoliman-kedzoliman yang terjadi diluar sana.
Ini juga membuat aku berfikir alangkah indahnya jika aku
kelak menjadi istri yang baik dan seharian melakukan aktifitas bersama
keluarga, ini mampu menjaga diri dari penyakit hati yang banyak di luar sana.
Jika kita terus berada dalam keadaan suci dan terus menjaga
diri kita suci dengan wudhu, suci dari perkataan buruk, suci dan pandangan yang
tidak halal, dan suci dari perasaan yang su’uzan maka dengan segera apa yang
kita inginkan Allah akan dengan cepat mengabulkan. Dan dengan cepat ayat-ayat Allah
bisa aku hafal dengan baik.
Kejar dunia untuk akhirat mungkin inlah langkah yang baik
yang akan lakukan di tahun mendatang. Hidup terus berputar dan tak pernah ada
kata kesudahan jika terus mengejar kilauan yang ditawarkan oleh dunia.
Izinkan hamba kembali padaMu ya Allah ya Tuhan pencipta
semesta alam. Hidup sudah tidak akan lama lagi akan berakhir. Kilauan dunia
hanya akan menambah duri untuk aku bisa melangkah ke dalam syurgaMu.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar