Setiap detik, setiap menit aku merindukan senyuman, tangis, dan canda anak-anak kecil yang selalu menjadi bahan penyegar jiwa.
Sering kali aku berkunjung untuk melihat anak kecil yang baru lahir, ketika mereka menangis akupun ikut menitihkan air mata. Entah apa yang ada dalam rongga dadaku hingga aku sulit untuk bernafas, tangis mereka seakan mereka berteriak dengan kencang bahwasanya mereka menangis karena terlahir pada zaman dimana Rasulullah SAW sudah tidak ada di bumi milik Allah ini lagi, di bumi yang semua serba tak gratis meski saudara kita hampir mati karena hari ini sang pemimpin harus membeli Apartment dan Mobil baru hanya untuk akhir pekan. Tangis mereka membuat aku tegar bahwa anak sekecil itu baru mau memulai perjalanan hidup mereka tanpa adanya Rasululullah SAW, pada zaman aku terlahirkanpun dunia sudah semakin menganas, sedangkan bumi semakin menua dan cepat atau lambat bayi2 yang terlahir kedunia akan menjumapi dajjal maupun kiamat masa dimana semua orang tidak ada di dalam zaman kerusakan hebat.
Tangis mereka adalah tangis meminta pertolongan pada makhluk di bumi ini untuk membimbing mereka ke jalan Allah, tangis mereka adalah tangis kekhawatiran bahwasanya mereka takut apa yang di ajarkan Rasulullah SAW sudah tidak setulus Rasul mengajarkan pada umatnya terdahulu, dan tangis bayi tersebut mengajarkan aku untuk membekali diri dengan ilmu dunia dan akhirat agar kelak aku bisa bertanggung jawab membimbing Putra dan Putriku sampai pada rumah Allah sesungguhnya.
Ya Allah SWT, Ya Rasulullah SAW sedetikpun jangan pernah melangkah mudur dari sisi kami, tak akan kuat dan sanggup melangkah hingga ke pelabuhan akhir tanpa Engkau disamping kami.
Ya Rasulullah terima kasih atas pengorbananmu untuk menggantikan rasa sakit ketika sakaratul maut tiba...
Berlian sekalipun akan kalah bersinarnya dengan kemuliaan hatimu...
*Peluk hambaMu dengan erat Ya Rab, Ya Rasulullah, peluk hambaMu dengan saaaaanngggaattt erat ya rab...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar