About Me

Foto saya
Ada dua cermin yang satu cembung dan yang satu cekung ketika kita berdiri didepannya maka apa yang terjadi satu terlihat lebih besar dan satu terlihat lebih kecil dan kita tidak akan pernah tau siapa diri kita. So,kita tidak perlu menjadi besar ataupun kecil untuk melihat siapa diri kita sesungguhnya, kita hanya membutuhkan cermin datar yang sederhana. By : Deslina Wandry November, 2010

Jumat, 16 Desember 2011

Denior Mencintai Lepas Pantai

Aku tidak menyukai pantai.
Tapi disanalah aku dipertemukan dengan kamu yang mampu menjadikan aku orang baik;
Aku berlari melemparkan kayu ke lautan lepas.

Perlahan ia kian menjauh dan terus menjauh kemudian menghilang
tak ada seorangpun yang tau bahwa aku menitipkan salam rinduku pada seonggok kayu yang tak utuh itu lagi.

Aku terus berdiri dengan mata yang meredup tak ingin duduk menatapi kepergiannya.
Saat ia mulai menghilang terbawa ombak yang syahdu; Aku berteriak di tepian "Sampaikan padanya bahwa dari jauh aku mencintainya dengan seluruh kekuranganku".

Hari mulai senja yang mengisyaratkan bahwa masih ada hari esok yang lebih cerah untuk aku bisa menunggu; Menunggu lagi di tepian rindu dengan aku menjadi lebih baik dari hari sebelumnya hingga Allah mempertemukan aku dan kamu ketika Allah telah menjadikan aku jiwa lembut yang baik niatnya bagi sesama.

Aku dan kamu bagai pasir di pantai yang mecintai lautan lepas. Jutaan mil dari hatimu, tak sesekali aku bersahabat dengan keputusasaan namun Allah memeluku. Semakin tersadar bahwa mencintaimu semakin kumenanti semakin menghilang sejauh mata memandang.

Aku bertanya pada nyanyian air yang menghempaskan dirinya pada batu karang; "Pernahkan sampai salamku yang kutitipkan pada kayu, air, ombak, ikan-ikan kecil, nelayan dan penjelajah laut sekalipun", tak ada yang mampu menjawab bahkan lumba-lumba sekalipun tertunduk layu.

Pada akhirnya kita bertemu.
"Hai, aku Lina."Kataku
"Hai, aku Laut."Katamu
Senyum itu bertemu.

"Laut ?" Aku tersenyum
berharap nama dariku untukmu itu adalah jiwamu..
"Bagaimana kamu mengetahui namaku?" Katanya

Redup,sunyi, sesak nafas dan rongga dada bergetar hingga tertahan ditenggorokan kita berdua.


Bagaimana seharusnya aku menjelaskan, aku memang sudah banyak tahu tentang dirimu;
Aku mengagumimu dengan kesederhanaanmu.
Aku mengagumimu dengan tutur katamu yang lembut dengan tidak mengurangi ketegasanmu sebagai seorang pemimpin.
Aku mengagumimu dengan kebijaksanaanmu.
Aku mengagumimu dengan kerendahan hatimu.
Aku mengagumimu dengan kasih sayangmu terhadap sesama.
Aku mengagumimu ketika kamu tertunduk iklas dan fitrah ketika menghadap Tuhan kita.
Aku mengagumimu kareana Allah.
Setiap harinya aku mengagumimu, Sejak Bertahun-tahun yang lalu.


Tidak ada yang abadi di dunia ini meskipun sejak pertemuan itu,
walau hari -hari semakin terasa indah dan kita kian begitu dekat;
Namun ombak tetaplah ombak, yang membawanya padaku ke tepian kemudian ia menariknya kembali ke lautan lepas.
Meninggalkan percikan dan membasahi sebagian tubuhku, itu membuat aku cukup tersadar bahwa pertemuan  itu bukanlah mimpi.
Kehadirannya membuat aku berani melangkah mendekati air di tepi pantai dan trus berjalan hingga menenggelamkan sepatuh tubuhku.
Terenyuh aku meraba tipis di atas permukaan air yang menghentakan kemudian pergi tanpa salam perpisahan.

"Lantas kemana perginya kayu itu?" kataku

"Yakinlah kayu itu akan kembali membawa sajak cinta darinya walau salam yang kau sampaikan terbata-bata.." Suara yang aku tak tahu dari mana asalnya.

Created by Deslina W
16 Desember 2011

*Do not copy cat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar